Senin, 09 Februari 2015

Apakah hal yang paling kalian rindukan dari seorang ibu?

Apakah hal yang paling kalian rindukan dari seorang ibu? Saya banyak, terutama ketika saya yang akhir – akhir ini sering bepergian keluar kota. Duduk nyantai di sore hari di depan rumah, ngeteh bareng, makan malam bareng, ngobrol ngalur ngidul, adalah hal – hal yang hampir tidak pernah dilewatkan setiap sore tiba. Bahkan ketika terakhir kali saya pergi keluar kota bulan kemarin, dari berangkat meninggalkan jogja, saya merasa sangat berat meninggalkan rumah, berat meninggalkan momen-momen bersama ibu, walaupun mungkin bagi orang lain itu adalah hal – hal sepele. Kenapa? Entahlah, saya merasa sangat berat untuk pergi keluar kota waktu itu. 2 minggu saya di luar kota, ibu saya menelepon, bertanya kapan saya pulang. Waktu itu saya pamit akan di luar kota selama 1 bulan, tetapi ibu mengira saya sudah waktunya pulang, padahal masih separuh perjalanan. Dalam percakapan di telepon, beliau bilang kepada saya bahwa sedang sakit, meriang, bapak juga sama. Sedang sama sama sakit ceritanya, sudah periksa ke dokter juga. Beliau juga berpesan agar saya selalu menjaga kesehatan, satu hal yang selalu ibu pesan ketika saya jauh dari beliau.

Senin, 19 januari pagi hari, saya tiba di Jogja, dan langsung pulang ke rumah. Kangen sama ibu.  Sampai di rumah, seharian saya tepar, hanya tidur dan tidur, mungkin karena kecapekan. Sore harinya, ibu menyuruh saya untuk membeli lauk untuk makan malam. Kata bapak, berhari – hari ibu sakit, tidak nafsu makan, tapi tidak mau periksa ke dokter. Petang itu saya, ibu, dan bapak wedangan seperti biasa, dan disambung makan malam. Ibu pun masih tidak punya nafsu makan, padahal saya sudah belikan lauk seperti yang beliau minta. “Kalau ibu tidak mau makan seperti ini, dan gak mau periksa ke dokter, semakin lemes dan sakit gak kunjung sembuh, buk”  ibu cuma menjawab, “ibu gak mau di-opname”. Cuma itu. Saya pun diam.

Selasa, 20 januari siang hari, kondisi ibu semakin melemah, dan akhirnya nyerah, minta dibawa ke dokter, oleh kakak saya. Namun ketika itu, ibu hanya meminta dibawa ke klinik, bukan ke dokter langganan ibu. Dan akhirnya ibu opname, diagnosa awal adalah hb rendah (8), kadar gula dalam  darah tinggi (354) dan infeksi saluran kencing. 3 hari di-opname, kondisi ibu terlihat semakin baik, dan hari jumat sudah boleh pulang. Selama 3 hari itu, ibu saya hanya bilang ingin pulang, pulang, dan pulang. Hingga apapun yang beliau rasakan, tidak diungkapkan baik kepada dokter, suster, atau keluarga, apalagi saya yang selalu menunggu beliau. Sampai ketika saat itu saya merasa ada yang aneh dengan ibu, beliau tidak bisa tidur, gelisah, nafas sesak, detak jantung cepat, dan selalu mengoleskan minyak angin ke punggung tangannya. Ketika itu saya bertanya kenapa mengoleskan minyak angin berkali-kali, opo gak panas? Beliau cuma menjawab enggak panas. Kamis malam, saya gak bisa tidur, dan hanya mengamati ibu saya yang gelisah di ranjang tidurnya, sampai jumat jam 1 pagi akhirnya saya tertidur juga. Pagi hari jam 3, ibu memanggil saya, “dadaku sesak”, kata beliau. Saya langsung memanggil suster jaga. Beliau langsug diberi oksigen, dan di-uap juga. Setau saya, ibu tidak punya penyakit asma atau sesak nafas atau sejenisnya, tetapi kenapa pagi itu ibu begitu sesak nafas. Bahkan ketika mau diberi oksigen, ibu bilang “lha saya itu mau pulang sus, kenapa pakai oksigen. Kemarin juga sudah bilang ke dokter”. 

Hari jumat, sabtu, ibu masih bisa diajak komunikasi, ibu mau makan, ibu pengen sembuh. Ibu paksain makan banyak karena pengen sembuh dan segera pulang ke rumah. Kami senang dengan apa yang kami lihat, ibu punya semangat kuat untuk sembuh. Tapi ibu masih tidak bisa tidur, detak jantung dan nafasnya cepat. Di tubuh ibu, dipasang alat deteksi detak jantung, tekanan darah, kadar oksigen dan detektor nafas standar ICU. Entah apa yang ada di pikiran ibu, yang jelas yang saya tahu, beliau memikirkan banyak hal.. sambil menunggu kondisi ibu stabil, kami berusaha mencari Rumah Sakit lain sebagai rujukan, yang memiliki ICU. Dari dokter tempat ibu di rawat, ibu didiagnosa septic shock. Septic shock yang diakibatkan oleh bakteri yang ada di dalam tubuh jauh melebihi batas normal, disebabkan bakteri yang kebal ketika diberi antibiotik karena kesalahan dalam mengonsumsi antibiotic (tidak habis diminum, lebih jelasnya bisa dibaca di internet).

Minggu, 25 januari, kondisi ibu bukannya stabil malah semakin memburuk. Hati saya entah apa rasanya melihat kondisi seperti itu, tapi saya, kakak-kakak dan bapak saya terus berusaha mencari solusi yang terbaik untuk ibu, konsultasi ke dokter, mencari rujukan, tanya ke sana ke mari, berdoa. Minggu malam, kami masih mencari rujukan, tapi entah kenapa ICU di RS jogja dan sekitarnya tetap saja masih penuh. Putus asa? Iya, kami sempat putus asa, tapi apakah dengan putus asa, solusi datang begitu saja?

Senin, 26 januari, pagi pagi sekali saya dan kakak mencari rujukan, lagi. Tapi mungkin semua sudah diatur oleh Tuhan, sampai saat itu tidak ada RS yang bisa dijadikan rujukan ibu. Sampai akhirnya kondisi ibu semakin kritis, jam 11.31 ibu benar-benar pulang. Tapi tidak ke rumah yang biasa kami tinggali, tetapi ke rumah Allah SWT…

Senin, 9 februari, 14 hari setelah ditinggal ibu, saya masih merasa bahwa ibu saya hanya sedang bepergian dan suatu saat akan kembali, seperti saat saya pergi keluar kota dan kembali. maaf, ibu…

Saya, masih punya beberapa hal yang belum sempat saya lakukan untuk ibu. Membelikan sandal, flat tv, mengganti motor matic (agar ibu bisa menggunakannya ketika saya tidak ada di rumah atau tidak saya pakai), dan yang paling penting adalah mengenalkan calon pendamping hidup saya kepada beliau dan menyaksikan saya dipinang oleh lelaki pilihan saya dan atas restu beliau. Iya, beberapa hal yang tidak akan bisa saya wujudkan untuk beliau..

Saya, meskipun sangat singkat, saya sangat bersyukur, diberi waktu wedangan bersama (yang ternyata itu adalah momen yang terakhir), diberi waktu seminggu untuk menemani beliau di akhir hidup. Diberi waktu seminggu tanpa putus di samping beliau, meskipun tidak ada kata terakhir yang beliau pesankan pada saya. Mungkin saya yang kurang peka dengan firasat yang ada sejak tugas keluar kota saya yang terakhir, tapi entahlah, mungkin semua sudah digariskan oleh Tuhan. Satu hal, yang pasti, saya akan selalu sayang sama ibu, kami akan selalu sayang sama ibu. Entah apa kata orang – orang di luar sana, apapun kata mereka… we’ll always love you, mom…

Saat ini, hal yang paling aku rindukan hanyalah senyummu, ibu… :’)


Wonosari,  9 februari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar