Apakah hal yang paling kalian rindukan dari seorang ibu? Saya
banyak, terutama ketika saya yang akhir – akhir ini sering bepergian keluar
kota. Duduk nyantai di sore hari di depan rumah, ngeteh bareng, makan malam
bareng, ngobrol ngalur ngidul, adalah hal – hal yang hampir tidak pernah
dilewatkan setiap sore tiba. Bahkan ketika terakhir kali saya pergi keluar kota
bulan kemarin, dari berangkat meninggalkan jogja, saya merasa sangat berat
meninggalkan rumah, berat meninggalkan momen-momen bersama ibu, walaupun
mungkin bagi orang lain itu adalah hal – hal sepele. Kenapa? Entahlah, saya
merasa sangat berat untuk pergi keluar kota waktu itu. 2 minggu saya di luar
kota, ibu saya menelepon, bertanya kapan saya pulang. Waktu itu saya pamit akan
di luar kota selama 1 bulan, tetapi ibu mengira saya sudah waktunya pulang,
padahal masih separuh perjalanan. Dalam percakapan di telepon, beliau bilang
kepada saya bahwa sedang sakit, meriang, bapak juga sama. Sedang sama sama
sakit ceritanya, sudah periksa ke dokter juga. Beliau juga berpesan agar saya
selalu menjaga kesehatan, satu hal yang selalu ibu pesan ketika saya jauh dari
beliau.
Senin, 19 januari pagi hari, saya tiba di Jogja, dan langsung
pulang ke rumah. Kangen sama ibu. Sampai
di rumah, seharian saya tepar, hanya tidur dan tidur, mungkin karena kecapekan.
Sore harinya, ibu menyuruh saya untuk membeli lauk untuk makan malam. Kata
bapak, berhari – hari ibu sakit, tidak nafsu makan, tapi tidak mau periksa ke
dokter. Petang itu saya, ibu, dan bapak wedangan seperti biasa, dan disambung
makan malam. Ibu pun masih tidak punya nafsu makan, padahal saya sudah belikan
lauk seperti yang beliau minta. “Kalau ibu tidak mau makan seperti ini, dan gak
mau periksa ke dokter, semakin lemes dan sakit gak kunjung sembuh, buk” ibu cuma menjawab, “ibu gak mau di-opname”.
Cuma itu. Saya pun diam.
Selasa, 20 januari siang hari, kondisi ibu semakin melemah,
dan akhirnya nyerah, minta dibawa ke dokter, oleh kakak saya. Namun ketika itu,
ibu hanya meminta dibawa ke klinik, bukan ke dokter langganan ibu. Dan akhirnya
ibu opname, diagnosa awal adalah hb rendah (8), kadar gula dalam darah tinggi (354) dan infeksi saluran
kencing. 3 hari di-opname, kondisi ibu terlihat semakin baik, dan hari jumat
sudah boleh pulang. Selama 3 hari itu, ibu saya hanya bilang ingin pulang,
pulang, dan pulang. Hingga apapun yang beliau rasakan, tidak diungkapkan baik
kepada dokter, suster, atau keluarga, apalagi saya yang selalu menunggu beliau.
Sampai ketika saat itu saya merasa ada yang aneh dengan ibu, beliau tidak bisa
tidur, gelisah, nafas sesak, detak jantung cepat, dan selalu mengoleskan minyak
angin ke punggung tangannya. Ketika itu saya bertanya kenapa mengoleskan minyak
angin berkali-kali, opo gak panas? Beliau cuma menjawab enggak panas. Kamis
malam, saya gak bisa tidur, dan hanya mengamati ibu saya yang gelisah di
ranjang tidurnya, sampai jumat jam 1 pagi akhirnya saya tertidur juga. Pagi
hari jam 3, ibu memanggil saya, “dadaku sesak”, kata beliau. Saya langsung
memanggil suster jaga. Beliau langsug diberi oksigen, dan di-uap juga. Setau
saya, ibu tidak punya penyakit asma atau sesak nafas atau sejenisnya, tetapi
kenapa pagi itu ibu begitu sesak nafas. Bahkan ketika mau diberi oksigen, ibu
bilang “lha saya itu mau pulang sus, kenapa pakai oksigen. Kemarin juga sudah
bilang ke dokter”.
Hari jumat, sabtu, ibu masih bisa diajak
komunikasi, ibu mau makan, ibu pengen sembuh. Ibu paksain makan banyak karena
pengen sembuh dan segera pulang ke rumah. Kami senang dengan apa yang kami
lihat, ibu punya semangat kuat untuk sembuh. Tapi ibu masih tidak bisa tidur,
detak jantung dan nafasnya cepat. Di tubuh ibu, dipasang alat deteksi detak
jantung, tekanan darah, kadar oksigen dan detektor nafas standar ICU. Entah apa
yang ada di pikiran ibu, yang jelas yang saya tahu, beliau memikirkan banyak
hal.. sambil menunggu kondisi ibu stabil, kami berusaha mencari Rumah Sakit
lain sebagai rujukan, yang memiliki ICU. Dari dokter tempat ibu di rawat, ibu
didiagnosa septic shock. Septic shock yang diakibatkan oleh bakteri yang ada di
dalam tubuh jauh melebihi batas normal, disebabkan bakteri yang kebal ketika
diberi antibiotik karena kesalahan dalam mengonsumsi antibiotic (tidak habis
diminum, lebih jelasnya bisa dibaca di internet).
Minggu, 25 januari, kondisi ibu bukannya
stabil malah semakin memburuk. Hati saya entah apa rasanya melihat kondisi
seperti itu, tapi saya, kakak-kakak dan bapak saya terus berusaha mencari
solusi yang terbaik untuk ibu, konsultasi ke dokter, mencari rujukan, tanya ke
sana ke mari, berdoa. Minggu malam, kami masih mencari rujukan, tapi entah
kenapa ICU di RS jogja dan sekitarnya tetap saja masih penuh. Putus asa? Iya,
kami sempat putus asa, tapi apakah dengan putus asa, solusi datang begitu saja?
Senin, 26 januari, pagi pagi sekali saya
dan kakak mencari rujukan, lagi. Tapi mungkin semua sudah diatur oleh Tuhan,
sampai saat itu tidak ada RS yang bisa dijadikan rujukan ibu. Sampai akhirnya
kondisi ibu semakin kritis, jam 11.31 ibu benar-benar pulang. Tapi tidak ke
rumah yang biasa kami tinggali, tetapi ke rumah Allah SWT…
Senin, 9 februari, 14 hari setelah
ditinggal ibu, saya masih merasa bahwa ibu saya hanya sedang bepergian dan
suatu saat akan kembali, seperti saat saya pergi keluar kota dan kembali. maaf,
ibu…
Saya, masih punya beberapa hal yang belum
sempat saya lakukan untuk ibu. Membelikan sandal, flat tv, mengganti motor
matic (agar ibu bisa menggunakannya ketika saya tidak ada di rumah atau tidak
saya pakai), dan yang paling penting adalah mengenalkan calon pendamping hidup
saya kepada beliau dan menyaksikan saya dipinang oleh lelaki pilihan saya dan
atas restu beliau. Iya, beberapa hal yang tidak akan bisa saya wujudkan untuk
beliau..
Saya, meskipun sangat singkat, saya sangat
bersyukur, diberi waktu wedangan bersama (yang ternyata itu adalah momen yang
terakhir), diberi waktu seminggu untuk menemani beliau di akhir hidup. Diberi
waktu seminggu tanpa putus di samping beliau, meskipun tidak ada kata terakhir
yang beliau pesankan pada saya. Mungkin saya yang kurang peka dengan firasat
yang ada sejak tugas keluar kota saya yang terakhir, tapi entahlah, mungkin semua
sudah digariskan oleh Tuhan. Satu hal, yang pasti, saya akan selalu sayang sama
ibu, kami akan selalu sayang sama ibu. Entah apa kata orang – orang di luar
sana, apapun kata mereka… we’ll always love you, mom…
Saat ini, hal yang paling aku rindukan
hanyalah senyummu, ibu… :’)
Wonosari, 9 februari 2015